Kemegahan Dunia
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan
janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu
mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat
neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul
yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang
kamu megah-megahkan di dunia itu) (At-Takatsur 1-8).
Latar-belakang turunnya ayat ini (asbabun nuzul) ketika dua qabilah (suku)
Anshar yakni Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri tentang
kekayaan dan keturunannya. Kemudian Allah swt memperingatkan manusia tentang
kebiasaannya yang bermegah-megahan dengan dunia dan lalai untuk mengingat Allah
swt.
Tiga (3) kali Allah swt memperingatkan manusia untuk tidak bermegah-megahan
(ayat 1), yakni pada ayat 3, 4 dan 5. “Kalla saufata’lamuun†(janganlah
begitu, kelak kamu akan mengetahui), maksudnya bermegah-megahan dengan dunia dan
melalaikan beribadah kepada Allah swt. Hal ini dapat kita pahami bahwa betapa
berbahayanya jika manusia bermegah-megahan dalam hal harta, keluarga dan
jabatan, sehingga Allah swt memperingatkannya berulang-kali. Bukankah jika anda
berulang-kali memperingatkan seseorang, “Jangan lakukan!, jangan lakukan!â€,
menunjukkan kekhawatiran anda atas bahaya yang akan menimpa orang tersebut.
Manusia sering lupa untuk mengingat Allah swt dan sibuk mengurus hartanya,
mereka sadar bahwa harta tidak bermanfaat baginya setelah masuk kubur (ayat 2).
Karena harta yang dimilikinya hanya melalui 3 jalan saja:
1. Yang dimakan kemudian habis
2. Yang dipakai kemudian usang/rusak
3. Yang disedekahkan dijalan Allah swt
Seorang hamba akan mengatakan, “Hartaku!, hartaku!, Padahal yang menjadi
hartanya itu hanyalah yang dia makan kemudian habis dan yang dia pakai kemudian
usang dan yang dia sedekahkan, maka akan terus mengalir. Selain itu akan sirna
dan ditinggalkan untuk orang lain (HR Muslim).
Harta yang pertama dan kedua tidak bermanfaat baginya di yaumil akhir, sedangkan
harta yang ketiga merupakan bekal untuk menghadap Allah swt. Selain itu bukan
hartanya, ketika ia meninggal maka rumah, mobil, tanah, emas dan berlian adalah
harta ahli warisnya, ia hanya bertugas mengumpulkan dan menyerahkan kepada
pemilik sebenarnya. Sehingga betapa ruginya orang yang korupsi, ia mencari harta
dengan cara yang haram, ia tanggung dosanya, tetapi orang lain yang
menikmatinya.
Dan ketika ia meninggal maka diantar oleh tiga hal dan hanya satu yang kembali,
ia diantar oleh harta, keluarga dan amalnya. Harta dan keluarga akan kembali,
sedangkan amal (baik atau buruk) yang menemaninya hingga ke liang kubur. Mobil
yang mengantar jenazahnya betapapun bagusnya, tidak akan ikut dikubur
bersamanya. Keluarga betapapun sedih ditinggalkan, tidak akan mau dikubur
bersamanya.
Jadi, jika saat ini kita memiliki harta yang berlimpah maka belum tentu harta
itu milik kita karena bisa jadi milik ahli waris, maka bersegeralah
membelanjakannya dijalan Allah swt agar menjadi harta yang bermanfaat bagi kita.
Tunaikanlah zakat, laksanakanlah haji, bantu fakir miskin, sumbangkan untuk
da’wah, bantu pembangunan masjid, dll. Bukan berarti harta tersebut
diserahkan semuanya sehingga ahli waris melarat ditinggalkan dan menjadi beban
orang lain, tetapi kita harus pintar memanfaatkan harta agar bermanfaat dan
menjadi bekal akhirat nanti.
Jika masih sibuk bermegah-megahan dengan dunia dan melalaikan beribadah kepada
Allah swt, maka Allah swt menjanjikan neraka jahim (ayat 6) dan janji Allah swt
pasti adanya! Dan Allah swt mengulangi lagi ancaman pada ayat 7, kamu
benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin, sehingga ayat ini berupa
“ancaman setelah ancamanâ€
Nanti di yaumil akhir Allah swt akan menanyakan atas nikmat yang telah
diberikan-Nya digunakan untuk apa (ayat 8), bersyukur kepada-Nya dengan
beribadah atau malah melupakan-Nya. Karena pada intinya manusia diciptakan Allah
swt untuk beribadah kepada-Nya sebagai wujud rasa syukur, karena Allah swt tidak
butuh atas ibadah yang kita lakukan tetapi kitalah yang membutuhkan pertolongan
Allah swt.
Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah-Ku (Adz-Dzaariyat 56)
Dan dua nikmat yang paling sering kita lupakan adalah kesehatan dan waktu luang
(HR Bukhari, Tirmidzi, Nasaâi dan Ibnu Majah). Coba saja, kita merasa lebih
dekat kepada Allah swt ketika sakit, kita sadar untuk memperbanyak ibadah ketika
sudah tua. Ketika saat sehat dan muda kemana saja?
